Turunnya Intensitas Belum Tentu Pertanda Merapi Menuju Kondisi Normal

Sejak meletus pada 5 November 2010 lalu, intensitas Merapi cenderung menurun. Namun masyarakat tetap diminta jangan gegabah karena turunnya intensitas bukan patokan kembalinya kondisi Merapi ke keadaan normal.

“Betul ada tren turun sejak letusan tanggal lima. Tapi masih terlalu jauh untuk melihat ini sebagai pertanda akan kembali normalnya Merapi,” ujar kepala BPPTK Yogyakarta Subandrio di Media Center, Jl Kenari, Yogyakarta, Sabtu (13/11/2010).

Menurut Subandrio, situasi yang terjadi di Merapi sekarang ini tergolong luar biasa. Pola-pola erupsi yang terjadi selama satu abad terakhir belum tentu dapat dijadikan patokan.

Meski intensitas menurun, lanjut Subandrio, peluang untuk terjadinya erupsi besar tetap terbuka. Letusan secara mendadak sangat perlu diwaspadai.

“Merapi yang sekarang beda. Ini seperti pada saat meletus tahun 1872,” terangnya.

Untuk itu dia meminta kepada para pengungsi dan masyarakat lainnya untuk bersabar. Untuk penurunan radius dan pengurangan status Merapi, memerlukan kajian mendalam.

“Kita perlu diskusikan untuk pengurangan radius. Bukan hanya berdasar dari turunnya intensitas (selama beberapa hari terakhir),” tuntasnya.

Intensitas Merapi pasca letusan hebat 5 November silam memang cenderung turun. Setelah itu gunung paling aktif di dunia ini terpantau relatif jarang mengeluarkan awan panas dengan kadar besar. (detik.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Pemilu di Indonesia terbesar kedua dunia setelah AS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*