“UMP Sudah Naik, Sebenarnya Buruh Maunya Apa?”

JAKARTA, KOMPAS.com — Kemacetan di Ibu Kota Jakarta akibat aksi buruh sangat berdampak pada James (67), seorang sopir taksi. Dia sampai heran mengapa buruh terus melakukan demo.

“Sekarang buruh itu sebenarnya mau apa? Kemarin minta UMP dinaikkan. Sudah dinaikkan, masih saja demo. Memang yang bekerja itu cuma buruh saja,” kata James yang terlihat kesal seharian terhadang kemacetan.

Pria yang telah menjadi sopir taksi selama 12 tahun itu mengaku geram dengan kemacetan di Ibu Kota yang sudah satu hari ini ia alami. Dia sampai mengumpat kebijakan libur nasional saat Hari Buruh Internasional yang baru dilaksanakan tahun depan.

Ribuan buruh dari berbagai daerah, memadati Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (1/5/2013). Mereka turun kejalan untuk meperingati hari buruh yang jatuh pada hari ini. WARTA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHA

“Masih saja semuanya disuruh masuk, padahal jalanan sudah enggak gerak begini. Mengapa baru kepikiran sekarang buat jadikan tanggal merah? Giliran hari kejepit saja, SBY pintar. Kalau yang begini saja, enggak ngerti,” kata James kepada Kompas.com, Rabu (1/5/2013).

Pria yang telah memiliki empat cucu itu kemudian bercerita pengalaman kemacetan yang ia temui hingga pukul 13.30. James memulai aktivitasnya setelah menunaikan ibadah shalat Subuh, yaitu sekitar pukul 05.00. Tugas pertamanya adalah mengantar penumpang yang bertempat tinggal di Kota Wisata Tangerang menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Baca Juga :  Antasari Menangis Haru karena Gugatannya Dikabulkan MK

Saat keluar bandara, sudah banyak polisi yang menjaga kawasan itu dan menimbulkan kemacetan. Selama lebih kurang 60 menit, ia terjebak di kemacetan Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang.

Setelah itu, ia mendapatkan penumpang di Puri Kembangan, Jakarta Barat, menuju Gedung BNI 46, Pejompongan. “Mulai dari situ, semua jalan sudah dialihkan. Ke Bundaran HI sudah tidak bisa dan dialihkan ke Jalan Blora di bawah Stasiun Sudirman. Terus ke Kebon Sirih, Tugu Tani, macetnya juga pol-polan. Saya kalau disuruh milih, lebih baik tidur di rumah saja,” ujar James.

Selain kesal dengan SBY yang tidak tanggap, pria bertubuh tambun itu juga kesal dengan aksi buruh yang menuntut hal yang sama setiap tahun, tetapi sangat merugikan masyarakat. Selain menimbulkan kemacetan, menurut dia, aksi ribuan buruh itu membuat aktivitas masyarakat yang mau melakukan kerja jadi sangat terhambat karena operasional transjakarta dan angkutan umum yang dihentikan.

“Lagian SBY juga sekarang lagi di Jawa Timur, siapa yang mau dengar mereka. Sudah capek saya ngerasani Indonesia,” keluh James.

sumber:kompas.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*