Untuk Lapangan, Kebersihan dan Keamanan – Pedagang Dikutip Uang

SIPIROK– Aturan Unsur Muspika (Uspika) Sipirok untuk menertibkan pedagang menggelar dagangannnya di badan jalan belum maksimal. Namun, pedagang mengaku tetap bertahan, karena mereka membayar uang lapangan, uang kebersihan, uang keamanan sebesar Rp5.000 per hari.

Pantauan Metro, di beberapa titik badan Jalan Merdeka (Jalinsum) di pusat Pasar Sipirok, akibat sejumlah pedagang masih menggelar barang dagangannya, suasana jalan menjadi semrawut dipenuhi pedagang dan pembeli yang hiruk pikuk.
Selain itu, beberapa pedagang juga tetap menggelar barang dagangannya di halaman kantor pemerintahan dan kantor swasta. Sikap pedagang ini selain membuat suasana pasar semrawut, juga terganggu pelayanan pemerintah terhadap masyarakat.

Umumnya, rata pedagang yang berjualan saat ini adalah, pedagang yang tidak ikut dalam pertemuan dengan Uspika Sipirok.

“Sikap mereka (para pedagang, red) ini sudah tidak mematuhi imbauan Uspika untuk menciptakan suasana bersih, tertib aman dan lancar di pasar ini. Tapi mungkin saja mereka tidak ikut dalam pertemuan itu,” kata  kata Nasution (60) warga Pasar Sipirok.

Dia melihat, pedagang makanan kecil dan buah sepertinya sudah mulai menjalankan aturan itu, dan seminggu terakhir tampaknya sudah berkurang jumlah mereka sesuai dengan harapan.

Pedagang Bayar Uang

Beberapa pedagang yang dijumpai METRO Kamis (23/2), Baktiar Nababan (32) mengaku tidak tahu adanya larangan berjualan di dekat kantor pemerintah. Namun mereka mengaku, saat berjualan ditagih uang lapangan, kebersihan, perparkiran dan lainnya.

Baca Juga :  Masyarakat Diimbau Waspadai Bencana

“Kami sudah sejak 5 bulan terakhir berjualan di sini dan tak ada masalah. Kami ditagih uang lapangan, uang kebersihan, uang keamanan, uang parkir yang masing masing Rp5.000 (4 kali ditagih, red). Jadi kami merasa tak dilarang,” kata penjual sayur warga Desa Butar, Kecamatan Siborong-borong, Taput ini.

Hal senada juga dikatakan pedagang lainnnya, Heri Sihombing warga Psp. Dia mengaku  ditagih uang kemanan, uang kebersihan dan uang lapangan.

“Kalau uang kebersihan memakai tiket, tetapi uang lapangan dan keamanan ditagih oleh Marga Simanjuntak dan Pane. Kami tak tahulah untuk apa uang itu, yang jelas kami merasa aman untuk mencari nafkah,” tuturnya.

Sedangkan Kamis (1/3), suasana pasar juga masih tetap sama dengan sebelumnya. Penjual buah salak Boru Pane (50) warga Sitinjak, Kecamatan Angkola Barat, Tapsel mengutarakan, kalau dirinya tidak tahu di jalan tersebut dilarang berjualan, soalnya petugas juga diam saja.

“Inda hami boto i da anggi, tai attong mambayari do hami (kami tak tahulah itu dek, bayarnya kami,red),” akunya. (ran/mer)

Sumber: metrosiantar.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*