Untuk Mengatasi Over Kapasitas di Lapas Klas II B Padangsidimpuan, Kantor Staf Dialihkan jadi Ruang Tahanan

Kamis, 28 Januari 2010 – www.metrosiantar.com
SIDIMPUAN-METRO; Untuk mengatasi over kapasitas penghuni di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II B Padangsidimpuan (Psp), maka pihak Lapas akan menambah ruangan. Kemudian beberapa kantor staf yang berada di dalam blok tahanan akan dialihkan menjadi ruang tahanan.

Demikian disampaikan Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Klas II B, Sugeng Irawan BcIp SH di Desa Salambue, Kecamatan Padangsidimpuan (Psp) Tenggara, Kota Psp kepada METRO, Rabu (27/1) sesuai ekspos yang dilakukan di Depkumham di Bandung baru-baru ini.

Dijelaskannya, begitu juga dengan tenaga pengamanan yang masih sangat minim akan ditambah. Sedangkan kantor staf sendiri akan dibuat di depan pintu masuk dan rencananya akan dibuat bertingkat.

Sementara untuk pembinaan warga binaan dan pelatihan keterampilan, ujar Kalapas, maka pihaknya akan bekerja sama dengan pemerintah daerah di Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel).

“Kita sudah mulai berkomunikasi dengan pemda setempat, khususnya Pemko Psp untuk menjalin kerja sama dalam pembinaan dan pelatihan warga binaan yang ada di Lapas Klas II B ini,” ungkapnya di dampingi Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP), Armi Siregar.

Dikatakannya, saat ini pembinaan dan pelatihan yang ada baru pembuatan mebel yang dikerjasamakan oleh para warga binaan. Untuk selanjutnya, jika kerja sama yang sudah di bangun dengan pemda yang ada di Tabagsel ini berjalan, maka akan dibuat pelatihan elektronik, montir, keterampilan lainnya seperti menjahit, salon, membuat paving block, dan lainnya.

Baca Juga :  Acara Khotaman Santri/Santriah Kelas XII Tingkat MAS AL-FALAH dan SMKS AL-HUDA Di Lembaga Pendidikan Islam Pondok Pesantren Gunung Selamat Berjalan Lancar Dan Meriah

“Saat ini yang ada baru keterampilan pembuatan mebel. Nanti kalau sudah ada kerja sama dengan pemda akan bertambah lagi, sehingga warga binaan yang keluar dari sini setelah menjalani masa hukumannya, telah mempunyai modal untuk bertahan hidup,” sebutnya.

Selain itu, dikatakan pria yang baru ditugaskan beberapa bulan di Lapas Klas IIB Psp ini, untuk pembinaan keagamaan ada masjid yang digunakan untuk sholat dan mengaji. Selain itu juga mendatangkan Ustadz untuk siraman rohani. Sedangkan pola makan yakni 3 kali sehari dengan menu daging sekali dalam seminggu, sedangkan pada hari biasa sayuran dan ikan.

Untuk tahanan anak-anak diberikan bimbingan dan mengikuti program pendidikan kesetaraan paket A, B, dan C. Begitu juga halnya dengan tahanan dewasa, baik pria maupun wanita. Untuk sarana olahraga ada lapangan bola volly dan tenis meja, meskipun fasilitasnya masih minim dan masih butuh penambahan.

Sementara untuk fasilitas kesehatan juga masih minim, di mana belum ada dokter tetap yang ada diklinik tersebut dan hanya datang sekali seminggu, sehingga ketika malam hari jika ada warga binaan yang mengalami sakit berat, maka untuk penanganan pertama sulit karena harus dibawa ke petugas kesehatan terdekat. Untuk itu, fasilitas ini juga mendapatkan perhatian serius untuk peningkatan sarana dan prasarananya.

Disebutkannya, saat ini warga binaan yang ada di Lapas Klas IIB Psp ini sudah over atau melebihi. Seharusnya kapasitasnya hanya untuk 175 orang, namun saat ini penghuninya mencapai sekitar 440 orang.

Baca Juga :  Korban DBD di Sidimpuan Bertambah

Sehinggga dari sekitar 30 kamar yang terdiri dari 2 blok untuk dewasa dan 1 blok anak dan perempuan. Dan untuk satu kamar yang seharusnya diisi 6 orang, kini dihuni 10 orang. Dan satu kamar yang seharusnya diisi 12 orang, kini dihuni sekitar 30 orang.

Dikatakan mereka, saat ini jumlah tahanan sebanyak 254 orang dan nara pidana sebanyak 186 orang. Jumlah penghuninya untuk wanita sebanyak 10 orang, anak-anak sebanyak 25 orang, sedangkan kasus korupsi sebanyak 5 orang, dan lain sebagainya.

Dikatakannya, untuk menjaga pengamanan, ada sebanyak 13 orang dengan sistem shift setiap hari selama 3 kali pergantian dari jumlah pegawai lapas keseluruhan sebanyak 38 orang. Sehingga untuk penjaga keamanan sangat kurang untuk menjaga sekitar 440 orang dalam LP Salambue tersebut. Seharusnya satu tenaga pengamanan idealnya menjaga sekitar 25 orang warga binaan.

Ia juga mengatakan, untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat, bahwa lapas tidaklah seperti prasangka masyarakat selama ini sebagai tempat yang mengerikan, juga menjali kerja sama dengan unversitas yang ada di Tabagsel untuk memberikan pemahaman apa-apa saja yang dilakukan di dalam lapas kepada warga binaan.

“Seperti contohnya, kita melakukan dialog dengan mahasiswa dari UMTS, Rabu (27/1) untuk saling bertukar informasi dan memberikan pemahaman tentang lapas saat ini, sehingga mereka bisa menyampaikannya kepada masyarakat tentang kondisi lapas saat ini,” pungkasnya. (phn)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Bila PNS Di Palas Bolos, Jabatan jadi Taruhan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*