Untuk Mengurangi Kesusahan Petani – 50 Monyet DIbantai di Padang Bolak

Sedikitnya 50 monyet di Desa Tanggatangga Hambeng, Kecamatan Padang Bolak, Paluta, dibantai. Pembantaian massal dilakukan warga dan oknum Dinas Pertanian. Alasan membantai hanya satu, monyet-monyet itu mengganggu. Tapi, haruskah membantai?

HASIL BURUAN- Sekretaris Dinas Pertanian Paluta Mara Doli Siregar bersama PNS dan sejumlah petani menghitung monyet hasil buruan, Selasa (22/11) sore.

Puluhan petani menenteng senapan angin, tombak, dan kayu, Selasa (22/11) siang. Bersama sejumlah pegawai negeri sipil (PNS), mereka bergerak ke hutan sekira pukul 13.00 WIB. Tujuannya; memburu monyet-monyet yang mengganggu tanaman warga.

Begitu sampai di hutan, sarang monyet yang berada di kerumunan pohon bambu dikepung. Selanjutnya, monyet-monyet itu dibunuh. Dalam hitungan jam, tepatnya selama tiga jam, sedikitnya 50 monyet berhasil dilumpuhkan.
“Perburuan ini dilakukan atas kesepakatan bersama. Monyet-monyet ini sangat meresahkan warga. Mereka suka mencuri buah-buahan dan tanaman palawija milik warga,” kata seorang warga, Darwin Siregar (50).

Menurut Darwin, perburuan juga mendapat persetujuan dari Dinas Pertanian Paluta. Ini dilakukan untuk membasmi monyet yang kian menggil merusak tanaman pisang, karet dan tembakau warga.. “Kalau tak dilakukan perburuan ini, sudah jelas hasil panen akan  berkurang,” imbuhnya.

Hal senada diungkapkan Mangaraja Langkotan Hasibuan (50). Menurutnya, kelakuan monyet-monyet itu sangat merugikan warga. Hasil panen kebunnya selalu berkurang karena harus berbagi dengan monyet.

Selanjutnya, ia berharap perburuan terus dilanjutkan agar serangan monyet berakhir, sehingga mengurangi beban petani.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pertanian Paluta, Mara Doli Siregar, menambahkan, kegiatan perburuan ini dilakukan secara bersama-sama untuk mengurangi kesusahan petani dari serangan monyet.

Monyet-monyet yang dibunuh tersebut selanjutnya dikubur di dalam hutan tersebut. Perlu diketahui, warga di sana membuka kebun di tengah hutan. Lantas, siapakah yang benar? Monyet yang ke luar mencari makan di halaman rumahnya atau manusia yang merasa terganggu karena hasil kebunnya dicuri monyet?  (thg)

Langgar UU
Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Kadiv Humas) Polri, Irjen Pol Saud Usman Nasution, mengatakan, pembunuhan hewan-hewan yang tergabung dalam kelompok primata, dikenakan pasal 21 ayat a dan b junto pasal 40 ayat 2 Undang -Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam (SDA) Hayati dan Ekosistem.

Baca Juga :  Guna Mempererat Tali Silaturrahim, PWI Reformasi Palas Gelar Bakti Sosial

Isi pasal tersebut berbunyi “setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperdagangkan satwa yang dilindungi dengan keadaan hidup” “Bila dilakukan maka tersangka terancam pidana lima tahun dan denda sebesar Rp100 juta,” pungkasnya.

Sekadar diketahui, primata adalah mamalia yang menjadi anggota ordo biologi Primates. Di dalam ordo ini termasuk lemur, tarsius, monyet, kera, dan juga manusia. Kata ini berasal dari kata bahasa Latin primates yang berarti “yang pertama, terbaik, mulia”.  Colin Groves mencatat sekitar 350 spesies primata dalam Primate Taxonomy. Ilmu yang mempelajari primata dinamakan primatologi.

Seluruh primata memilik lima jari (pentadactyly), bentuk gigi yang sama dan rancangan tubuh primitif (tidak terspesialisasi). Kekhasan lain dari primata adalah kuku jari. Ibu jari dengan arah yang berbeda juga menjadi salah satu ciri khas primata, tetapi tidak terbatas dalam primata saja; opossum juga memiliki jempol berlawanan.

Dalam primata, kombinasi dari ibu jari berlawanan, jari kuku pendek (bukan cakar) dan jari yang panjang dan menutup ke dalam adalah sebuah relik dari posisi jari (brachiation) moyangnya di masa lalu yang barangkali menghuni pohon. Semua primata, bahkan yang tidak memiliki sifat yang biasa dari primata lainnya (seperti loris), memiliki karakteristik arah mata yang bersifat stereoskopik (memandang ke depan, bukan ke samping) dan postur tubuh tegak. (int/wik)

Banyak Alternatif Selain Membunuh
Pemerhati lingkungan dan sosial, Niel Makinuddin, mengatakan ada banyak cara untuk mengatasi persoalan orangutan yang menyerang lahan kelapa sawit (atau kebun palawija warga) selain membunuhnya.

“Kalau misalnya belum dibuka menjadi kebun, maka sebaiknya ada survei HCVF (High Conservation Value Forest) untuk melihat apakah kawasan itu punya nilai sosial dan lingkungan,” katanya.

Baca Juga :  Usut Tuntas Kasus PS Sidimpuan!

Survei ini mencakup potensi keanekaragaman hayati wilayah tersebut serta potensi sosial, misalnya kuburan adat, pohon yang dikeramatkan, hewan yang dikeramatkan dan sebagainya.

Cara ini meminimalisasi resiko penyerangan orangutan. “Jadi kita sebenarnya hidup berdampingan dengan satwa langka,” jelasnya saat dihubungi Selasa (22/11). Jika lahan sudah terlanjur dibuka dan orangutan sudah menyerang sekalipun, masih ada cara-cara bijak untuk mengusir atau merelokasinya.

“Kita bisa tembak bius lalu dipindahkan ke habitatnya atau ditaruh ke tempat rehabilitasi. karena jika sudah lama berinteraksi dengan manusia itu harus diliarkan kembali,” ungkapnya. Menurut Niel, cara perkebunan menangani satwa langka dan masalah sosial adalah wujud misi mengembangkan perkebunan kelapa sawit secara berkelanjutan.

Terkait upaya itu, kata Niel, Indonesia pun sudah mengembangkan Indonesia sustainable Pal Oil (ISPO). Ada pula Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) yang memiliki tujuan sama. Meski demikian, baru sedikit perusahaan kelapa sawit yang berupaya memenuhinya. Masih dibutuhkan komitmen industri dan kebijakan pemerintah yang mendukung. (int)

Sumber: metrosiantar.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*