Vonis 15 Tahun untuk Ba’asyir

TEMPO Interaktif, Jakarta – Iringan mobil yang dikawal baracuda memasuki gerbang Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pagi itu, Kamis, 16 Juni 2011. Iringan tersebut disambut takbir dari ratusan orang yang memadati halaman Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Dari iringan itu, keluar sosok berpakaian serba putih yang dikawal polisi. Pria berusia 72 tahun tersebut adalah Abu Bakar Ba’asyir. Ia menjalani sidang vonis kasus terorisme.

Dalam sidang, Ba’asyir divonis 15 tahun. Majelis hakim menilai Ba’asyir terbukti melakukan perbuatan yang menimbulkan suasana teror.

“Mengadili, menyatakan terdakwa Abu Bakar Ba’asyir terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana dalam dakwaan subsider, dan menjatuhkan pidana selama lima belas tahun penjara,” ujar Ketua Majelis Hakim Herri Swantoro dalam amar putusan yang dia bacakan.

Hal yang memberatkan vonis adalah perbuatan terdakwa tidak mendukung upaya pemerintah dalam pemberantasan terorisme, dan sudah pernah dihukum sebelumnya tapi mengulanginya lagi. Sedangkan hal yang meringankan, terdakwa sudah berusia lanjut dan bersikap sopan selama di persidangan.

Menurut hakim, Ba’asyir terbukti melakukan dakwaan subsider, dan melanggar Pasal 14 juncto Pasal 7 Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme karena terbukti menimbulkan suasana teror melalui pelatihan militer di Pegunungan Jantho, Aceh Besar.

“Merencanakan, dan/atau menggerakkan orang lain, dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan bermaksud menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal,” ujar Herri.

Baca Juga :  BENTROK WARGA - Korban Tewas di Lampung Selatan Jadi 14 Orang

Vonis hakim jauh lebih rendah dibanding tuntutan jaksa, penjara seumur hidup. Sebelumnya, Ba’asyir dianggap jaksa terbukti menggalang dana untuk kegiatan teror.

Dana yang dikumpulkan Ba’asyir berjumlah Rp 350 juta, yang didapat dari Haryadi Usman (Rp 150 juta) dan Syarif Usman (Rp 200 juta). Duit itu kemudian digunakan Lutfi Haidaroh alias Ubaid untuk membiayai pelatihan militer di Pegunungan Jantho, Aceh Besar. Namun, hal itu dibantah Ba’asyir.

Menanggapi vonis tersebut, Ba’asyir mengatakan, “Karena mengabaikan Syariat Islam dan hanya berdasar undang-undang yang thogut. Haram hukumnya saya menerima.”

Tim kuasa hukum Ba’asyir menyatakan banding atas vonis tersebut. “Dari tim penasehat hukum menyatakan banding,” kata salah satu pengacara Ba’asyir, Achmad Michad.

Sedangkan tim jaksa penuntut umum masih menyatakan pikir-pikir banding. “Kami gunakan waktu satu minggu untuk pikir-pikir,” ujar Ketua Tim JPU Andi M Taufik.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*