Warga Dayak Tolak FPI – Gus Solah: Saatnya FPI Introspeksi

Warga Dayak Tolak FPI

Liputan6.com, Palangkaraya: Sekitar lima ribu warga suku Dayak di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, turun ke jalan, Sabtu (11/2). Mereka menolak kehadiran organisasi massa Front Pembela Islam (FPI) di daerah itu.

Aksi dipusatkan di Bundaran Besar Kota Palangkaraya. Mereka membawa spanduk yang bertuliskan penolakan atas kehadiran ormas tersebut. “Penolakan terhadap FPI bukan karena sentimen agama, tetapi karena selama ini, FPI dinilai identik dengan kekerasan dan anarkisme,” tegas Wakil Ketua Dewan Adat Dayak Kalteng Lukas Tingkes.

Massa juga mendatangi Bandar Udara Cilik Riwut, untuk menghadang kedatangan pengurus FPI. Akhirnya, empat pengurus FPI dari Jakarta yang datang dengan pesawat Sriwijaya Air, tidak jadi turun dari pesawat. Mereka pun kembali diterbangkan ke Jakarta.

Sebelumnya, massa juga sempat melakukan pembakaran tenda dan merusak rumah seorang warga di Jalan Karet, Palangkaraya, yang akan dijadikan tempat menginap keempat pengurus FPI tersebut.(SHA)
Gus Solah: Saatnya FPI Introspeksi

TEMPO.CO, Jakarta – Salahuddin Wahid, tokoh hak asasi manusia, mengatakan Front Pembela Islam (FPI) seharusnya introspeksi diri setelah kejadian penolakan ratusan warga suku Dayak di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Sabtu, 11 Februari 2012. Menurut Gus Solah–panggilan akrabnya–FPI tidak bisa memaksakan diri.

“Kejadian itu menunjukkan di beberapa tempat ada penolakan. Mestinya FPI introspeksi dan belajar dari situ,” kata Gus Solah, saat dihubungi Tempo, Minggu, 12 Februari 2012.

Baca Juga :  Kapolri Gandeng Kopassus Berantas Terorisme

Menurut adik mantan Presiden Gus Dur itu, aksi penolakan FPI juga pernah terjadi di Jombang, Jawa Timur. Pada saat itu, Gerakan Pemuda Ansor dan sekitar 15 organisasi massa di Kabupaten Jombang siap menghadang pasukan FPI ke kabupaten setempat, April 2011. Barisan Ansor Serbaguna (Banser) pasang badan menghadapi FPI.

“Saat itu masyarakat Jombang lapor ke polisi, FPI hanya diizinkan menggelar pengajian, tapi tidak sampai mendirikan cabang FPI,” kata Gus Solah.

Pada peristiwa penghadangan rombongan FPI di Bandara Cilik Riwut, Palangkaraya kemarin, Gus Solah menangkap adanya keterlibatan polisi. Kepolisian setempat, menurut dia, mendukung aksi masyarakat yang terusik dengan kedatangan FPI di wilayahnya. “FPI memang punya hak di mana pun, tapi kalau masyarakat terusik, mestinya sadar diri dan tidak memaksa,” ujarnya.

Menurut Gus Solah, masyarakat menolak FPI karena dianggap organisasi yang suka kekerasan. Adanya kejadian di Palangkaraya, kata dia, “Sebaiknya menjadi bahan introspeksi karena Islam berarti keselamatan atau perdamaian, bukan kekerasan.”

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*