Warga Desak Pemkab Bangun Rambin jadi Jembatan

78962600f41370bb022c3be79abcfc03a0c9a84 Warga Desak Pemkab Bangun Rambin jadi Jembatan
Rambin menuju lima desa yang rusak parah. Warga mendesak pemkab mengubah rambin menjadi jembatan. Foto dijepret Minggu (6/2).

MADINA-METRO; Sedikitnya 500 KK yang tinggal di lima desa sekitar sungai Batang Gadis, Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), mendesak pemerintah agar mengubah rambin yang menghubungkan kelima desa dengan Pasar Kotanopan diganti menjadi jembatan permanen.

Desakan ini disampaikan sejumlah warga perwakilan 5 desa, yakni Desa Hutapadang, Hutarimbaru, Gunung Tua, Simandalom, dan Aek Marian. Warga Hutarimbaru, Solahuddin Lubis (37), kepada METRO, Minggu (6/2), mengatakan, lantai jembatan sepanjang 70 meter dengan lebar 2,5 meter itu, hanya terbuat dari papan berlapis dan sudah lapuk dan dindingnya terbuat dari kawat. “Sekitar tiga bulan lalu, ada warga yang jatuh ke sungai. Untung lah belum ada korban jiwa,” ujarnya.

Diceritakannya, jembatan itu sudah selayaknya dibangun permanen. Sebab, kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Perlu diketahui, rambin tersebut merupakan satu-satunya prasarana yang dimiliki masyarakat lima desa menuju pasar Kotanopan. Belum lagi warga yang beraktivitas di luar kecamatan, misalnya anak sekolah. Hal senada diungkapkan Sekretaris Desa Hutarimbaru, Haris Ahmad. Menurutnya, beberapa bulan terakhir, kondisi lantai jembatan semakin parah akibat perangkat bagian jembatan sudah rusak dan bertanggalan.

Diungkapkannya, jembatan tersebut sangat mempengaruhi hajat hidup warga lima desa karena hanya ini satu-satunya jalur yang dilewati untuk keluar menuju Kotanopan. “Memang ada jalur alternatif lain, yakni jalan yang melintasi Desa Sabadolok. Namun, jarak yang awalnya hanya sekitar 1,5 kilometer ke Kotanopan menjadi sekitar 6 kilometer kalau dari Sabadolok. Itu pun jalannya darurat dan tak terawat,” sebut Haris.

Baca Juga :  Lumat Almeria, Barca Tunggu Madrid

Selama ini, lantai jembatan yang rusak atau bertanggalan hanya diperbaiki warga setempat dengan suka rela agar tetap bisa digunakan untuk mengangkut hasil-hasil perkebunan dan pertanian. Seperti, karet, kulit manis, kemiri, coklat, hingga sayur-mayur. “Kalau hanya bantuan dan partisipasi dari masyarakat, itu tak mungkin lagi mengingat kondisi ekonomi warga masih lemah. Oleh sebab itu kami berharap kepada pemerintah agar segera menyikapi kondisi ini,” pintanya diamini warga setempat. (wan) (metrosiantar.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*