Warga Palas dapatkan 5.600 ton pupuk bersubsidi

SIBUHUAN – Masyarakat petani pekebunan Padanglawas tahun ini mendapatkan  5.600 ton pupuk bersubsidi. Angka tersebut bertambah sebanyak 2624 ton dari tahun sebelumnya yang hanya  mendapatkan 2.976 ton.

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Padang Lawas melalui sekretaris, Parhimpunan, kepada Waspada di Sibuhuan, tadi malam, mengatakan Pertambahan jumlah subsidi tersebut akibat pertambahan pengguna pupuk dan  meluasnya lahan perkebunan warga.

Dikatakan,  pupuk subsidi tersebut terdiri dari Urea 2.238 ton, Superphos 571 ton, ZA 1.295 ton, NPK 993 ton dan 503 ton. Sedangakan tahun sebelumnya hanya Urea 1698 ton, Superphos 519 ton dan NPK 759 ton.

Kebutuhan pupuk tersebut berdasarkan rencana defenitif kelompok kerja (RDKK) Padanglawas yang didata penyuluh perkebunan lapangan (PPL) dan ketua kelompok tani pekebunan.

Sedangkan penyaluran urea bersubsidi melalui pengecer resmi urea bersubsidi defenitif PT Pusri kabupaten Padang Lawas dengan distributor PT Gresik Cipta Sejahtra (GCS)  yang telah dihunjuk di 5 kecamatan  yakni 8 kios untuk wilayah kecamatan Huristak, Sosopan 3 kios, Hutaraja tinggi 8 kios dan Batang Lubu Sutam 7 kios.

Penyalur resmi Pupuk ZA, Superphos, Phonka dan Petro Organik  bersubsidi PT Petrokimia Gresik Kab. Padang LAwas dengan distributor PT. Pertani yang telah dihunjuk 13 kios di Kec. Barumun Tengah, 6 kios di Lubuk Barumun, 4 di Kec. Sosa dan 6 di Hutaraja Tinggi

Sementara harga eceran terrtinggi (HET) yang telah ditentukan pemerintah  Urea Rp1.200, Superphos Rp1 550, ZA Rp1.050, NPK Phonka (15:15:15) Rp1.750, NPK Pelangi (20:10:10) Rp1.830, NPK Kujang (30:6:8) Rp1 586 dan pupuk organik  Rp500 per kilo gram.

Baca Juga :  DPRD: SD penerima DAK di Batang Angkola rawan bencana

Menurutnya, kondisi tanah untuk perkebunan di Padanglawas  masih normal dengan PH tanah umumnya 6 hingga 7. “Artinya  tanah dalam kondisi basa, sementara bila PH tanah di bawah 6 kondisinya akan basa”, ujarnya.

www.waspada.co.id

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*