Warga Pangaribuan Butuh Perbaikan Jalan

Untuk meningkatkan perekonomian masyarakat yang berimbas pada perbaikan ekonomi daerah bahkan bangsa, tentunya harus didukung dengan berbagai sektor. Salah satunya, faktor sarana tranportasi yang memadai. Karena, sarana transportasi sangat besar dan erat kaitannya dengan dasar patokan harga berbagai komoditi sumber kekayaan alam yang dimiliki wilayah tertentu. Atas dasar inilah masyarakat Desa Pangaribuan, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapsel sangat mengharapkan perhatian pemerintah untuk pembangunan jalan menuju desa yang memiliki 226 Kepala Keluarga (KK) tersebut.

Kepala Desa Pagangaribuan, Mara Lian (50) kepada METRO Sabtu (16/7) mengatakan, sekitar 10 tahun terakhir hampir seluruh masyarakatnya telah menekuni pertanian kakao, dan beberapa tahun belakangan tanaman kakao telah menjadi sumber penghasilan terbesar bagi setiap warga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya di desa tersebut. Namun kesungguhan masyarakat dalam meningkatkan taraf eknomi sendiri terkesan kurang mendapat dukungan dari berbagai pihak terutama pemerintah karena kondisi jalan dibiarkan tanpa perbaikan.

“Kami sangat membutuhkan jalan ini diperbaiki, kami sangat kesulitan membawa hasil bumi, dari sisini kepasar akhirnya harganya jauh berkurang karena biaya tranportasi,” katanya. Hal senada juga dikatakan Ali Usman (59) dan Ali Aman Simamra (50), untuk membersihkan jalan mereka harus rajin menggelar gotong-royong agar tetap bisa dilalui kenderaan dan hasil alam bisa dipasarkan.

“Kalau kami biarkan mungkin kondisinya akan lebih parah, memang sudah rusak parah, jika hujan kami jelas kesulitan karena banyak yang berlumpur dan tanjakan dengan jalan bercampur lumpur. Kalau tak salah kondisi ini sudah sekitar 10 tahun terakhir,” kata mereka. Sementara anggota DPRD Tapsel, H Gunanawan Siregar yang langsung merasakan kondisi sulitnya kondisi jalan tersebut pada METRO mengatakan, sangat prihatin dan akan terus memperjuangkan wilayah tersebut agar secepatnya dapat ditempuh dengan mudah sehingga kedepan ekonomi warga cepat berkembang dengan transportasi dan pemasaran yang mudah.

Baca Juga :  Beras Naik, Warga Madina Mengeluh

“Masyarakat memang telah giat menggeluti tanaman kakao, tapi begiliah jalan menuju wilayah mereka, tentu untuk mengangkut hasil pertanian menuju pasar warga harus mengeluarkan biaya transportasi yang tak sedikit, tapi kita akan terus memperjuangkan keluhan dan aspirasi mereka melalui kawan-kawan di komisi lain yang membidanginya di DPRD,” sebutnya.

Amatan METRO Sabtu (16/7) bersama mobil anggota DPRD Tapsel, H Gunawan Siregar, jarak Sipirok-Pangaribuan hanya sekitar 25 km namun harus ditempuh dengan waktu sekitar 2.5 jam perjalanan. Dari Sipirok kondisi jalan yang agak bagus hanya sekitar 10 km mulai dari jalan provinsi sekitar 8 km dan jalan menuju Aek Sere sekitar 2 km, itupun banyak lubang kecil dan harus ditempuh dengan waktu sekitar 15 menit. Selanjutnya dari Aek Sere hingga Janji lbi, kondisi jalan sekitar 6km rusak parah dan memakan waktu sekitar 30 menit, terus dari Janji Lobi, hingga Hasahatan tepatnya di hutan pinus atau sekitar 6 km. Kondisi jalan kembali agak bagus, namun harus ditempuh dengan waktu sekitar 15 menit, selanjutnya dari ditengah hutan pinus hingga Pangaribuan kembali kondisi jalan yang rusak parah dengan tanjakan dan turunan curam memaksa perjalanan harus pelan dan hati-hati. (ran/mer)

Metrosiantar.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Serangan Hama Turunkan Produksi Padi di Madina

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*