Warga Riau Demo Tuntut Pemerintah Tuntaskan Bencana Kabut Asap

Analisa/denny winson) PROTES KABUT ASAP: Ratusan demonstran melakukan aksi menuntut pemerintah pusat dan daerah Riau bertanggungjawab dan menuntaskan bencana kabut asap. Kualitas udara di Kota Pekanbaru dan beberapa kota lainnya di Riau telah mencapai kategori ‘berbahaya’ akibat kabut asap yang menyelimuti sejak sebulan terakhir.

Pekanbaru, (Analisa). Sekira 300 demonstran dari 30 elemen organisasi yang ada di Kota Pekanbaru melakukan aksi damai di jalan Cut Nyak Dien Pekanbaru di depan Perpustakan Soeman Hs, Senin (10/3). Mereka menuntut pemerintah, mulai dari pusat hingga ke tingkat kabupaten/kota untuk bertanggungjawab atas musibah kabut asap yang melanda Riau.

Koordinator Aksi Rakyat Riau Melawan Asap (ARRMA) Heri Budiman dalam orasinya menuntut pemerintah pusat, provinsi hingga ke pemerintah kabupaten/kota untuk segera memadamkan kebakaran lahan dan hutan, penyebab kabut asap tebal.

''Sudah sejak 16 tahun Riau menderita karena kabut asap ini. Bencana kabut asap ini setiap tahun terjadi, tetapi pemerintah seakan menganggap ini adalah kejadian yang biasa. Pemerintah tidak pernah serius untuk menuntaskan persoalan kabut asap ini,'' tukasnya.

Sehingga, tambah Heri, hari ini di Kota Pekanbaru dan beberapa kota lainnya di Riau kualitas udara sudah mencapai titik berbahaya sebagai dampak kabut asap. Kualitas udara ini juga menyebabkan seluruh sekolah di Pekanbaru diliburkan untuk 3 hari ke depan.

Baca Juga :  Sambil Menangis, Orangtua Pelaku Teror di Gereja St Yosep Minta Maaf

Misbach, salah satu aktivis lingkungan juga mendesak Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Riau, Brigjen (Pol) Condro Kirono harus tegas menangkap dan mengadili pihak perusahaan yang di arealnya terdapat kebakaran lahan.

''Dari 28 tersangka pembakar lahan yang ditetapkan pihak kepolisian tidak satu pun dari pihak perusahaan. Polda Riau harus berani menindak pelaku pembakaran dari kalangan perusahaan,'' tukasnya.

Dalam aksi damai tersebut, aktivis dari Greenpeace menampilkan teaterikal menyangkut kerusakan lingkungan dan satwa dilindungi. Dalam aksi teaterikal itu, para aktivis Greenpeace ini menggunakan baju menyerupai kulit harimau. (dw)

Sumber: analisadaily.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 5 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*