Warga Siobon Jae Keluhkan Rendahnya Harga Karet

Menyadap Karet Seorang warga Desa Siobon Jae ketika menyadap karet miliknya, warga mengeluhkan rendahnya harga karet. (medanbisnis/zamharir rangkuti)

Menyadap Karet Seorang warga Desa Siobon Jae ketika menyadap karet miliknya, warga mengeluhkan rendahnya harga karet. (medanbisnis/zamharir rangkuti)

Panyabungan. Hampir 90% warga Desa Siobon Jae, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), mengandalkan penghasilan sehari – harinya dari penjualan getah karet alam. Namun dengan harga hanya bertahan di kisaran Rp 5.000/kg hingga Rp 5.500/kg membuat mereka kesulitan menutupi kebutuhan hidup keluarga.

Desa yang berada di Bukit Barisan paling timur di Kecamatan Panyabungan sebagai ibu kota Kabupaten Madina itu bependuduk 140 KK dengan 700 jiwa itu. Dengan lokasi perbukitan tanpa ada lahan pertanian tentu hanya mengandalkan hasil perkebunan. Hal itu disampaikan Kepala Desa Siobon Jae Ikmal Batubara kepada MedanBisnis, Minggu (21/8) di Siobon.

“Masyarakat sangat mengeluhkan dengan kondisi harga karet yang tidak pernah lagi naik. Padahal ini merupakan hasil komoditas andalan kita, jikapun ada hasil tambahan itu yakni kulit manis, dan kemiri. Makanya semenjak harga karet alam jatuh kehidupan semakin susah,” ucapnya.

Kepdes mengakui setiap keluarga itu rata – rata memiliki anak antara lima hingga tujuh orang ditambah orang tua, sehingga total dalam keluarga yang harus ditutupi kebutuhan sehari – hari menjadi tujuh hingga sembilan orang. Sementara hasil sadapan karet hanya 10 kg/hari dengan masa kerja enam hari per minggunya. “Jika kita kalkulasikan hasil per minggunya 60/kg dikali Rp 5.500 berarti hanya Rp 330.000/ minggu dengan anak tujuh orang tentu sangat susah untuk membutuhinya,” katanya.

Baca Juga :  Mengembalikan Kepercayaan Diri Madrid

Berbeda katanya ketika harga karet di atas Rp 10.000/kg, terlihat kehidupan di tengah warganya cukup bergairah, banyak anak sekolah melanjutkan ke jenjang SMA sederajat. “Sekolah tingkat atas belum ada di desa kita ini, anak – anak harus menimba ilmu ke ibu kota kabupaten,” ujarnya.

“Jadi dengan penghasilan yang sekarang, sudah ada yang putus sekolah keluarga tidak sanggup lagi menyekolahkan ke jenjang SLTA. Kami mengharapkan kepada pemerintah untuk bisa mencari solusi mengatasi bagaimana agar harga karet alam kembali naik,” harapnya. (zamharir rangkuti)

Sumber: medanbisnisdaily.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 3 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*