Warga Sosa Budidaya Ikan di Pinggir Danau Gayambang

Sosa. Sebahagian petani kelapa sawit dan karet di Desa Ujung Batu, Kecamatan Sosa, Kabupaten Padang Lawas (Palas), membuat budidaya ikan air tawar di pinggiran Danau Gayambang. Para petani menggali potensi lain karena saat ini harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit dan karet lagi terpuruk.

Seorang tokoh masyarakat, H Abdul Khamid Daulay saat ditemui MedanBisnis, Minggu (23/8), terlihat sedang memberikan pakan ikan pada seribuan benih ikan nila, yang dibudidayakan pada sebidang kerambah ikan seluas 10 meter dikali 30 meter. “Daripada pusing mikirin harga sawit yang terus anjlok, baiknya saya cari usaha lain. Saya lihat ada potensi ekonomi di danau ini, makanya saya buat kerambah ikan nila. Mudah-mudahan 3 bulan lagi bisa panen ikan nila kita,” ucap H Khamid.

Dikatakan, di lokasi danau dengan luas sekitar 35 hektar (ha) dan bentuk danau yang menyerupai huruf C itu, banyak tersedia berbagai jenis ikan air tawar, seperti ikan nila, mas, gabus dan sebagainya. “Benih ikan nila yang saya ternak di kerambah saya, juga dari danau ini, besarnya sekira sebesar jari telunjuk. Saya perkirakan jumlah benihnya ada seribuan ekor. Hitung-hitung lebih ekonomis ketimbang beli benih ikan di pasaran,” terangnya.

Kerambah ikannya sendiri, lanjut H Khamid, dibuat pada kedalaman air danau semeteran lebih. Jaring kerambah yang dipakai selebar 1 meter, yang digabung sehingga lebarnya menjadi 2 meter.

Baca Juga :  Terkait Pernyataan Alumni Tak Sah Ikut Testing CPNS - Mahasiswa STKIP Demo DPRD Padagsidimpuan

“Bukan kerambah apung, tapi jaring kerambah langsung dibuat sampai di dasar danau. Makanya jaring yang lebar 1 meter dijahit lagi, agar bisa selebar 2 meter,” ujarnya.

Dijelaskan, untuk membuat kerambah ini, dia beli segulung jaring lebar 1 meter, panjang 100 meter yang dibagi 2 masing-masing sepanjang 50 meter. Kemudian jaringnya dibuat selebar 2 meter agar bisa kandas ke dasar danau.

Ketahanan jaring yang tebuat dari bahan nylon itu, diperkirakan mampu bertahan selama 2 tahun sampai 3 tahun ke depan. Ketinggian jaring juga sudah diprediksi tidak akan melebihi ketinggian air danau pada saat penghujan, karena danau ini sudah dilengkapi pintu air, yang berfungsi mengatur kondisi dan debit air danau.

“Selain membeli jaring 1 gulung, juga dibutuhkan kayu hutan untuk tiang-tiangnya. Saya hitung-hitung, habis juga Rp 2 juta untuk membuat kerambah seukuran ini, itu sudah termasuk upah orang yang membantu saya,” terangnya.

H Khamid optimis, usaha yang tengah dirintisnya ini akan membuahkan hasil selambatnya pada akhir tahun ini. Direncanakan, ikan nila miliknya tersebut akan ditangkarnya, agar pada saat panen nantinya, sudah tersedia benih ikan yang akan dikembangkan untuk periode selanjutnya.

“Selain budidaya ikan nila, saya juga akan merintis lokasi danau ini menjadi objek wisata lokal. Misalnya, diadakan boat atau sampan, sehingga masyarakat bisa mengelilingi areal danau yang cukup luas ini. Tentunya, ada biaya sewa boat atau sampannya,” pungkasnya.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 4 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Belasan Warga Tapanuli Selatan Adukan Perbuatan Aparat Keamanan ke Komnas HAM

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*