Warga Tolak Sapi Kurban Yang Idap Cacing Hati

MADINA- Lima ekor sapi yang akan dikurbankan di Kecamatan Siabu, Madina, mengidap penyakit cacing hati. Akibatnya, warga menolak pemberian daging kurban, Minggu (6/11). Alasan warga menolak karena takut mengonsumsi daging tersebut.
Sapi berpenyakit cacing hati ini ditemukan di Desa Lumban Dolok dan Tanggabosi, Kecamatan Siabu. Informasi yang dihimpun METRO di lokasi, usai menunaikan salat Idul Adha atau sekitar pukul 08.30 WIB, panitia kurban bersama peserta kurban menuju lokasi pemotongan di pinggir desa.

Tatkala sapi kesembilan hendak dipotong-potong, panitia kurban menemukan kejanggalan. Dari dalam hati dan limpa sapi berkeluaran cacing. Kejadian itu disaksikan peserta kurban dan ratusan masyarakat yang datang. Sebagian peserta kurban merasa jijik dan tak mau menerima bagian dari sapi yang berpenyakit tersebut.

Tiga sapi lain yang sedang dipotong-potong juga demikian. Akhirnya, panitia kurban berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Pemkab Madina untuk memastikan penyakit empat sapi dari 14 ekor hewan kurban di desa Lumban Dolok.

Merdi Nasution (45), salah seorang peserta kurban yang bagiannya merupakan daging sapi mengidap penyakit itu mengatakan, daripada mengonsumsi sapi sakit lebih baik Rp1,3 juta untuk berkurban diikhlaskan. “Daripada dapat bagian sapi berpenyakit lebih baik tak usah. Saya ikhlaskan saja uang kurban itu daripada penyakitnya menular,” katanya.
Bukan hanya Merdi, peserta kurban yang lain juga menolak untuk mengonsumsi sapi berpenyakit itu. Warga menilai hewan kurban itu tak pantas untuk dikonsumsi apalagi buat keluarga masing-masing. “Yang makan kan keluarga kita juga di kampung ini, buat apa makan daging berpenyakit,” ujar Kurnia warga Desa Lumban Dolok.

Baca Juga :  500 Rumah Dan 2.000 Ha Lahan PT MAL Madina Terbakar

Kejadian serupa juga terjadi di Desa Tanggabosi. Warga menemukan gelantungan cacing keluar dari hati salah satu hewan kurban mereka. Berbeda dengan di Lumban Dolok, sapi yang berpenyakit fasiola tetap dibagikan kepada warga Tanggabosi, namun hati dan limpa yang mengandung penyakit dibuang.

“Kami sebelumnya telah berkoordinasi dengan Dinas Peternakan menanyakan perihal penyakit ini. Hasilnya masih aman dikonsumsi, tetapi hatinya dibuang,” sebut Sekdes Tanggabosi, Andi Maulana, kepada METRO, Minggu (6/11). Sedangkan Kadis Pertanian dan Peternakan Pemkab Madina melalui Kabid Peternakan, drh Indra Harahap yang datang ke lokasi setelah menerima laporan dari panitia kurban, menyebutkan, penyakit ini tidak membahayakan, karena penyakit ini hanya fasiola atau cacing hati saja. Tetapi diingatkannya, hati dan limpanya jangan dikonsumsi.

“Hasil pemeriksaan kami, kelima sapi di dua desa itu penyakitnya tidak membahayakan asal hati dan limpanya jangan dikonsumsi. Yang membahayakan adalah penyakit antraks itu, penyakit apabila setelah sapi dipotong kemudian hatinya dikoyak mengeluarkan darah dan nanah, itu baru penyakit membahayakan dan jangan lagi mengonsumsi bagian manapun pada sapi tersebut, karena itu rentan dengan manusia,” sebut drh Indra.

Ditambahkannya, sebelumnya pihaknya telah mengimbau panitia kurban agar berkoordinasi dengan mereka terkait kemungkinan penyakit yang diidap hewan ternak sebelum dipotong. “Kita sebelumnya telah mengumumkan kepada panitia kurban bagi yang khawatir hewannya tak sehat agar menghubungi kita, tetapi setelah dipotong baru diketahui berpenyakit,” tambahnya. (wan)

Baca Juga :  Menko Kesra DR H Agung Laksono Kunker ke Paluta

metrosiantar.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*