Wawancara Khusus KOMPAS dengan Nurdin Halid

1528058620X310 Wawancara Khusus KOMPAS dengan Nurdin Halid
Nurdin Halid dalam sesi wawancara dengan KOMPAS.com di kantor PT Liga Indonesia, Kuningan, Jakarta, Kamis (31/3/2011) malam. Nurdin mengakui bahwa dirinya tidak mau lagi dicalonkan sebagai Ketua Umum PSSI, tapi niat itu urung dilakukan karena merasa dizalimi.

NURDIN HALID akhirnya menerima Kompas.com untuk wawancara, Kamis (31/3/2011) sore di kantor PT Liga Indonesia. Ketika kami masuk, dia tampak serius melihat video-video semua aksi demo dan kegiatan yang berkaitan dengan PSSI.

Sosok Nurdin Halid seperti tidak habis-habisnya diperbincangkan oleh pelaku sepak bola Tanah Air. Baru-baru ini, pria kelahiran Watampone, Sulawesi Selatan, itu selalu disibukkan beradu argumen dengan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Mallarangeng daripada memutar otak untuk mencari solusi atas kemelut yang terjadi di lembaganya.

“Perseteruan” kedua pria yang sama-sama berasal dari Makassar itu bermula dari pembekuan PSSI oleh pemerintah. Keputusan itu diambil setelah PSSI membatalkan Kongres PSSI di Riau, Pekanbaru, Sabtu (26/3/2011).

Nurdin melawan. Ia meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencopot Andi Mallarangeng. Ia bahkan menuding Andi telah mengobok-obok lembaga yang dipimpinnya.

Oleh karena itu, Nurdin, yang sebelumnya berniat tidak ingin dicalonkan sebagai Ketua Umum PSSI lagi, akhirnya mengurungkan niatnya itu. Dia merasa wajib mengawal PSSI karena harga diri organisasi yang ia pimpin tengah dizalimi.

Kepada Kompas.com, Nurdin blak-blakan menyampaikan banyak hal. Dalam wawancara berdurasi 20 menit itu, Nurdin menyampaikan kekecewaannya kepada Andi Mallarangeng yang dinilainya terlalu membela pihak yang berseberangan dengan dirinya. Namun, tegasnya, polemik PSSI tidak ada hubungannya dengan persaingan antara Partai Golkar dan Partai Demokrat. Berikut ini hasil wawancara dengan Nurdin Halid:

Setelah “dikartu merah” oleh Menpora, apakah benar Anda masih ngotot ingin mencalonkan sebagai Ketua Umum PSSI lagi?

“Dalam perjalanan menuju Pekanbaru, saya menyampaikan insya Allah program kongres berjalan dengan baik. Ketika membuka kongres, saya akan menyatakan tidak mencalonkan diri lagi. Itu niat saya. Kemudian, pada saat itu dikatakan belum saatnya karena ketua umum punya tanggung jawab sesuai statuta sampai dengan kongres”.

Sejak kapan Anda memiliki niat itu?

“Niat itu timbul karena tak ingin gara-gara saya (PSSI terus kacau), sekalipun saya tahu itu diciptakan orang yang ambisius mengambil PSSI. Istri dan ibu menyarankan kepada saya, sekalipun itu rezeki orang lain, tetapi ya sudah mengalah. Di depan FIFA, saya urungkan (menyampaikan niat tak mencalonkan diri lagi) karena dizalimi terus-menerus seperti ini.”

Ada bukti penzaliman dan apakah penzaliman itu begitu terasa dan parah?

“Luar biasa! Masak mau berkongres dengan baik, kami ditekan habis, kamar digerebek, dan ada yang ditendang. Sampai saya tidak bisa ke tempat kongres karena suasana yang sangat mencekam. Ini penzaliman luar biasa.”

“Nah, ini berarti saya harus mengawal kembali untuk harga diri PSSI. Bukan saya saja. Bukan Nurdin Halid. Saya melakukan sesuatu bukan untuk mempertahankan. Dari dulu, saya tidak pernah melakukan sesuatu untuk mempertahankan diri.”

“Namun, PSSI tidak boleh dibuat seperti ini. Karena apa? Ini akan menjadi preseden buruk. Nanti, hal yang sama akan menimpa siapa pun, bukan hanya kepada saya. (Menimpa) siapa pun kalau kondisi ini dibiarkan.”

Anda menilai langkah Menpora sebagai sebuah kesalahan?

“Kalau boleh jujur, benar enggak langkah Alfian Mallarangeng? Kalau kongres (di Pekanbaru) berjalan bagus, saya akan menyatakan (tidak mencalonkan lagi). Tapi, saya dizalimi begitu, saya tidak akan menyatakan itu. Saya akan terus mengawal PSSI ini sampai kepada kongres sesuai jati dirinya.”

Seperti apa bentuk pengawalannya?

“Saya akan mempertahankan organisasi. Masak Menpora membiarkan KPPN (Komite Penyelamat Persepakbolaan Nasional) bisa berjalan dengan alasan menyudutkan kami lagi. Menyalahkan PSSI. Sementara matanya sendiri melihat bagaimana situasi kongres. Pintu didobrak dan berteriak-teriak, seperti mau perang. Banyak orang yang bukan peserta kongres diperkenankan masuk.”

Anda katanya sudah membentuk tim kuasa hukum untuk menggugat Menpora?

“Sudah. Saat ini sudah saya serahkan kepada kuasa hukum untuk mengatur langkah-langkah. Kita kan negara hukum dan demokrasi. Jadi, kita serahkan saja.”

Apa yang menjadi celah dalam gugatan tersebut?

“Ini sebenarnya persoalan sederhana. Jika dia tidak suka saya, tinggal bilang sama anggota, jangan lagi memilih Nurdin Halid lagi karena saya (Andi) tidak suka. Selesai, kan? Mana bisa jadi ketua umum kalau tidak dipilih anggota. Sederhana, kan? Tapi, ini dibikin rumit, dibikin sulit, dan diobok-obok. Buktinya, Anda bisa melihat.”

“Sebelum dia menjadi menteri, apakah ada persoalan seperti ini? Tidak usah jauh-jauh. Waktu Kongres di Bali, kalau kelompok Saleh Mukadar tidak di-back-up, mana bisa mereka tembus di Bali. Anda coba analisis, deh. Tetapi, karena di-back-up, makanya dia berani buat kekisruhan. Itu sebenarnya yang harus dikartumerahkan, bukan PSSI yang dikartumerahkan. Bukan saya juga. Hal itu yang membuat saya tidak bisa menerima dizalimi seperti itu. Kok di depan matanya (ada yang) melakukan pelanggaran anarkis, tidak dikartumerahkan. Kok saya yang dikartumerahkan. Anda berkata jujur, deh.”

Saat ini banyak pihak yang sebelumnya pendukung Anda, seperti Manajer Persisam Putra Samarinda, Harbiansyah Hanafiah, membelot. Bagaimana pandangan Anda?

Baca Juga :  Olah Kotoran Sapi Jadi Pengharum Ruangan, 2 Siswa Dikirim Ke Olimpiade

“Coba tanya dia. Pengakuan kepada teman-teman yang bertanya, dia ditekan habis. Dia bilang itu sama Haruna. Jadi mereka terpaksa. Sahabat-sahabat saya itu bukan membelot. Dia mengikuti karena terpaksa. Bagaimana orang memilih pemimpinnya dengan baik kalau dipaksa.”

Sebetulnya, apakah Anda memiliki masalah pribadi dengan Andi Mallarangeng?

“Enggak ada masalah pribadi. Hanya dibuat-buat itu saja, kan!”

Masih banyak yang disampaikan Nurdin Halid seputar konflik PSSI, dari masalah politik, sikapnya di Kongres PSSI nanti, sampai pada dampak kepada keluarganya. Bahkan, anaknya sampai berkelahi gara-gara pemberitaan tentang dirinya. Ikuti lanjutan wawancara berikutnya.

Nurdin: Andi Mallarangeng Pejabat Apa, Coba?

KETUA Umum PSSI Nurdin Halid dan Menpora Andi Alfian Mallarangeng semakin panas, menyusul keputusan Kementerian Pemuda dan Olahraga membekukan PSSI. Nurdin mengaku tak punya masalah pribadi dengan Andi Mallarangeng yang sama-sama berasal dari Makassar.

Lalu, banyak analisis mengatakan, konflik PSSI tak lepas dari pertarungan dua partai politik. Nurdin di kubu Golkar, sedangkan Andi Mallarangeng di kubu Partai Demokrat.

Nurdin membantah ini ada hubungannya dengan politik. Tetapi, dia mengaku masih heran dan tak bisa terima oleh keputusan Kementerian Pemuda dan Olahraga yang membekukan organisasi yang ia pimpin. Dia juga banyak memprotes sikap Menpora Andi Alfian Mallarangeng yang menurutnya banyak melakukan kejanggalan.

Berikut lanjutan wawancara khusus antara Kompas.com dan Nurdin Halid yang dilakukan di kantor PT Liga Indonesia, Kamis (31/3/2011) sore.

Apakah polemik PSSI ada hubungannya dengan persaingan antara Partai Golkar dan Partai Demokrat?
“Saya tidak pernah (memolitisasi PSSI). Aneka warna di PSSI, apakah saya pernah memolitisasi PSSI? Diciptakan saja itu. Orang yang berbicara politik, itu yang memolitisasi PSSI.”

Sekarang konflik Anda dengan Andi Mallarangeng seolah representasi pertarungan dua partai tersebut. Benarkah?
“Coba tanya, mana ada seorang pejabat memberikan sambutan di sebuah buku dengan nama buku putih yang dibuat oleh Arifin Panigoro. Isinya mencaci maki Nurdin Halid, PSSI, pengurus PSSI, dan tidak ada prestasi. Ini pejabat seperti apa coba? Dari situ Anda sudah bisa melihat kan.”

Apakah Anda tetap datang pada Kongres PSSI mendatang?
“Oh, saya tetap akan mengikuti kongres sesuai statuta, kecuali FIFA yang akan mengadakan kongres. Kita tidak berbuat apa-apa. Saya tidak mau menciptakan preseden buruk. Saya tidak ingin dikatakan, Nurdin Halid pemimpin yang pengecut pada suatu saat.”

Lalu, kenapa pada Kongres PSSI di Pekanbaru Anda tak jadi datang?
“Saya tidak sampai ke tempat (kongres Pekanbaru), saya dikatakan tidak bertanggung jawab. Itu kan press conference Menpora yang bilang saya tidak kompeten dan tidak profesional. Lah, bagaimana saya datang ke tempat kongres? Saya lebih memilih menyelamatkan nyawa manusia. Bagaimana saya mau datang dengan suasana seperti itu? Kemudian kawan-kawan saya keselamatannya terancam.”

“Andi Mallarangeng harus lihat itu. Kemudian, dia seenaknya mengatakan Nurdin Halid dan Nugraha Besoes tidak profesional dan tidak kompeten, membuat peserta bingung, karena bukannya ketua kongres yang mengumumkan pembatalan kongres. Ini langkah politik, karena situasinya darurat. Bayangkan kalau Nugraha datang ke tempat kongres untuk mengumumkan (pembatalan), kemudian dikeroyok. Siapa yang bertanggung jawab? Andi Alfian harus tahu kenyataan itu.”

Bagaimana jika nanti surat FIFA melarang Anda mencalonkan diri?
“Harus menaati. Apa pun keputusan FIFA, saya akan menaati. Apa yang saya lakukan selama ini betul-betul mengawal konstitusi FIFA, PSSI, dan menjabarkan undang-undang olahraga sesuai dengan kondisi yang ada.”

“Di mana kewenangan dia (Andi) berdasarkan undang-undang, yang boleh mengatakan bagus atau tidak bagus sebuah organisasi? Coba pasal berapa? Apa pelanggaran PSSI?”

Apakah sebelumnya sudah ada komunikasi dengan Menpora?
“Nah, itu! DPR mendorong pemerintah untuk menyelesaikan masalah PSSI secara baik. Kami tunggu betul. Bahkan, kami minta melalui adiknya. Tapi, tidak ada berita sampai saat ini. Coba kurang apa?”

“Masak saya yang mengundang menteri datang ke PSSI? Kan, tidak etis dong. Sementara menteri punya kewenangan memanggil PSSI. Dia tinggal menanyakan kenapa begini, kenapa begitu, apa yang Anda lakukan, bagaimana aturannya. Ini enggak. Dia lebih memilih menerima KPPN. Bahkan, dia lebih memberi pengarahan. Dia malah menciptakan masalah.”

“Buktinya, dia konferensi pers meminta suporter mendemo PSSI. Mana ada seperti itu. Waduh, luar biasa. Pernahkah menteri agama meminta umat Islam mendemo Ahmadiyah? Pernah enggak?”

Anda punya buktinya?
“Bukan. Itu kan konferensi pers. Kalian yang nulis itu. Saya tidak mendengar langsung, tetapi membaca dari tulisan kalian.”

Apakah Anda serius mengikuti pemilihan Presiden ASEAN Football Federation (AFF) pada 10 April mendatang?
“Sebenarnya terus terang, saya selalu dipersoalkan dengan masa lalu saya (pernah terlibat kriminal). Saya hanya ingin membuktikan tidak melanggar statuta. Ada bukti yang cukup kuat. Kalau saya melanggar statuta, kenapa FIFA pascakongres 2009, dalam surat tertulis memperkenankan pengurus hingga periode ini?”

“FIFA tidak mungkin membiarkan pelanggaran berjalan mulus. Statuta AFC tidak boleh bertentangan dengan FIFA. Saya ingin membuktikan kepada bangsa bahwa saya tidak bermasalah dengan statuta. Saya sudah membuktikan di AFC, AFF, dan FIFA. Kurang apa buktinya?”
Selama beberapa bulan Nurdin Halid menjadi pembicaraan publik dan dia sering dihajar banyak kritik. Hal ini ternyata berimbas kepada keluarganya, sampai anaknya sempat berhantam. Nurdin juga sudah menyadari dia tak akan memimpin PSSI lagi. Namun, dia tetap akan memikirkan sepak bola. Bahkan, bisa jadi dia akan menjadi manajer klub luar negeri. Ikuti sesi wawancara berikutnya.

Baca Juga :  1.660 Mahasiswi di Yogyakarta Tak Perawan ... ?

Saya Bisa Jadi Manajer Klub Eropa

NURDIN Halid sudah siap tidak lagi memimpin PSSI. Namun, bukan berarti dia tak akan lagi bersinggungan dengan sepak bola. Sebab, katanya, jiwanya adalah sepak bola.

Lalu, apa yang akan dia lakukan jika sudah tak menjabat sebagai Ketua Umum PSSI nanti? Berikut sesi terakhir wawancara khusus dengan Nurdin Halid yang dilakukan di Kantor PT Liga Indonesia, Kamis (31/3/2011).

Selama setahun ini, Anda terus dihajar sana-sini. Apakah ini memengaruhi keluarga Anda?

“Saya jelaskan kepada anak-anak bahwa kalau bapakmu tukang becak, tidak mungkin didemo. Saya jelaskan kepada anak-anak mulai dari yang kecil, istri, ibu, mertua, dan keluarga besar.”

Mereka sangat terpukul?

“Sangat terpukul.  Anak saya yang paling bungsu, Ani Nurhaliansyah, pernah berkelahi di sekolahnya. Gara-gara temannya bertanya kenapa bapaknya enggak mau turun. Lalu, dia menjawab, kenapa bapak saya harus turun.”

Apa yang Anda lakukan setelah tidak lagi menjabat sebagai Ketua Umum PSSI?

“Darah daging saya ‘kan sepak bola. Ada idealisme. Tapi, setelah saya pelajari filosofi sepak bola, di mana sepak bola bisa mengubah karakter sebuah bangsa, sebuah peradaban, dan menciptakan kemaslahatan manusia, maka sepak bola menjadi idealisme. Dari hobi senang-senang menjadi idealisme. Dengan aspek persatuan, ekonomi, dan sosial.”

“Banyak yang bisa saya lakukan. Saya bisa membina klub, bisa menjadi manajer salah satu klub di Eropa atau di luar negeri.”

Sudah ada klub yang meminati Anda?

“Oh enggak. Saya hidupnya mengalir saja. Di mana saya dibutuhkan, di situ saya ada. Saya tidak merencanakan menjadi Ketua Umum PSSI. Saya kaget menjadi manajer PSM Makassar. Ingat, mungkin saya satu-satunya ketua umum PSSI yang lahir dari bawah, tidak instan. Dari manajer PSM, pembina PSM, Ketua Penprov Sulawesi Selatan, manajer tim nasional, Ketua Bidang Tim Nasional.”

Apakah Anda nanti terjun ke dunia politik?

“Politik itu bukan jiwa saya. Jiwa saya bisnis dan mengurusi orang banyak. Makanya, saya urusi koperasi dan sepak bola. Itulah jiwa saya. Saya tidak cocok di politik karena saya selalu berkata lurus. Tidak bengkok-bengkok. Kalau orang politik itu, pagi bisa mengatakan A, siang mengatakan B, dan malam mengatakan C. Tergantung situasi dan keadaan. Saya enggak bisa.”

Pekerjaaan rumah bagi pengurus mendatang?

“Saya dan kawan-kawan berhasil melahirkan sebuah visi 2020. Sebuah visi yang mampu merancang berbagai kegiatan persepakbolaan nasional yang mengarah kepada industri sepak bola.”

“Mohon maaf, sebelum saya menjadi ketua, pernah ada enggak program seperti ini? Kalau itu dikawal oleh semua stakeholder, membangun sepak bola dengan visi 2020, insya Allah industri sepak bola tercipta suatu saat.”

“Indonesia biasa berganti pemimpin (kebijakan berbeda). Sama dengan koki ‘kan. Sebenarnya ramuan boleh lain untuk menciptakan rasa yang lain. Namun, tujuannya menciptakan makanan yang enak. Kira-kira begitu. Tujuan enggak boleh berubah. Tapi cara mencapai tujuan boleh berbagai cara. Visi 2020 adalah investasi yang paling bernilai dari pengurus PSSI saat ini.”

Kompas.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*