WILLEM ISKANDER

Oleh: Shohibul Anshor Siregar *)

Tidak usah kita perdebatkan (lagi) bahwa mizan yang benar bisa memperbandingkan secara seksama antara RA Kartini, Rohana Kudus, Siti Manggopoh, Si Boru Lopian, Maria W Maramis, dan orang-orang lokal lainnya.

WILLEM ISKANDER

Sebuah akun Facebook memperbincangkan Willem Iskander. Teringatlah Sibulus-bulus Sirumbuk-rumbuk. Teringat pulalah Tano Bato. Juga tentang kejadian sekitar 2 bulan lalu ketika seseorang anak muda dari Mandailing Natal bertanya, siapa dokter pertama dari Mandailing yang jika bisa dikukuhkan menjadi nama RSUD di sana. Oh, itu dokter Lubis (Radja Dorie Loebis, 1807-1916).

Jika sejarah lokal selamanya akan lebih menjadi urusan lokal, maka membuatnya menjadi urusan nasional adalah perjuangan awal yang sungguh amat berat bagi orang-orang lokal. Orang-orang lokal itu perlu berjuang, karena tanpa sejarah bukan saja mereka, tetapi semua orang di permukaan bumi, sepanjang sejarah, tak akan memiliki persepsi yang benar terhadap hidup, terhadap diri mereka, terhadap masa depan mereka.

Lagi pula,  saat tak nilai menjadi urusan pokok di suatu “etape kebangunan” sebuah negeri, mereka di sana kerap “mempersetankan” sesuatu yang tak memberi mereka banyak uang dan keuntungan kekuasaan nyata lainnya, hari ini dan saat ini. Kita misalnya (Mandailing Natal) tak menjadi centre, telah menjadi fakta yang cukup lama.

Harus ada kesediaan menerima fakta ini. Dari pinggiran inilah memang akan lebih sulit “menggolkan” sesuatu, yang pastilah tak semudah menasionalkan RA Kartini “Habis Gelap Terbitlah Terang” itu tempohari. Tidak usah kita perdebatkan (lagi) bahwa Mizan yang benar bisa memperbandingkan secara seksama antara RA Kartini, Rohana Kudus, Siti Manggopoh, Si Boru Lopian, Maria W Maramis, dan orang-orang lokal lainnya. Tetapi itu terbatas sekali menjadi urusan para “pembaca buku” seperti Anhar Gonggong, Taufik Abdullah, Ongokham dan teman-temannya yang lain.

Baca Juga :  Bersahabat dengan Lebah

Mari saya beri sebuah pertanyaan: Bukankah begitu mudahnya “Cikeas” menjadi fenomena kenegaraan”? Berbahagialah Willem Iskander, karena ia pun pastilah pernah tahu bahwa Tuhan tak pernah tidur dan tak pernah lupa.

*)Penulis: dosen sosiologi politik FISIP UMSU, Koordinator Umum ‘nBASIS
sohibul WILLEM ISKANDERn’BASIS adalah sebuah Yayasan yang didirikan tahun 1999 oleh sejumlah akademisi dan praktisi dalam berbagai disiplin (ilmu dan keahlian). ‘nBASIS adalah singkatan dari Pengembangan Basis Sosial Inisiatif dan Swadaya dan memusatkan perhatiannya pada gerakan intelektual dengan strategi pemberdayaan masyarakat, pendidikan, perkuatan basis ekonomi dan kemandirian individu serta kelompok.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

2 Komentar

  1. pada saat sekarang ini penelitian tentang tradisi lokal sedang bergeliat.
    teringat dengan Williem Iskandar dengan maha karaya Si bulus bulus rumbuk rumbuk saya sedang mencari bukunya yang masih berbahasa daerah….
    kalau ada informasi tentang buku itu bisa tolong diinformasikan kepada saya

  2. Yang penting jasa2 serta teladan mereka itu masih terpahat disanubari setiap kita, apalah arti sebuah nama, tetapi sejarah adalah cerminan untuk melangkah ke depan. Anda benar Tuhan tak pernah tidur

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*