Wisata Aek Sijornih Ramai Walau Mengecewakan

Ramai Pengunjung Aek Sijornih masih menjadi tempat wisata yang memukai dan ramai dikunjungi di harai Raya Idul Fitri 1436 H. (medanbisnis/ikhwan nasution)

Aek Sijornih di Aek Libung, Kecamatan Sayurmatinggi, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), masih menjadi tujuan utama warga masyarakat untuk berekreasi baik mudamudi, orang tua maupun anak-anak. Ribuan orang diperkirakan “tumpah” per harinya selama liburan hari raya Idul Fitri 1436 H.

Para pengunjung yang didominasi para pemudik dengan membawa keluarganya membuat suasana permandian di tempat ini disesaki. Nyaris tidak ada celah kosong untuk mandi di sejumlah titik lokasi pemandian baik di lokasi kolam renang maupun di lokasi air terjunnya, dan air mengalir yang pas untuk anak anak bersilancar dengan ban dalam mobil.

Setidaknya ada empat tingkatan lokasi sampai ke tempat pemandian di puncak bukit Aek Sijornih. Tingkat bawah lokasi pemandian ada kolam renang, tingkat dua ada pemandian kolam berikut air terjun yang mengitari di atas bebatuan, tingkat tiga juga ada pemandian air terjun.

Kemudian, tingkat empat sungai kecil yang mengalir dan sangat pas untuk anak-anak bermain dengan bandalam mobil. Muda mudi anak-anak bahkan orang tua menjadikan tempat ini mandi bersiluncur dari hulu ke hilir sungai dengan menaiki ban dalam.

Rasa capek mendaki melintasi jalan setapak mengitari tempat ini dapat terbayar setelah mandi dan makan bersama keluarga di gubuk-gubuk yang banyak berdiri di sisi kiri kanan sungai. Pengunjung boleh membawa makanan dari rumah atau cukup memesan makanan seperti goreng-gorengan ataupun mie kepada pedagang yang juga banyak ditemukan di lokasi.

Aek Sijornih berada di arah selatan dari ibu kota Kabupaten Tapsel, hanya berjarak kurang lebih 30 kilometer, dan dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih setengah jam dari kota Padangsidimpuan. Demikian juga lokasi pemandian ini lebih dekat ke Mandailing Natal (Madina) sehingga pengunjung lebih banyak datang dari Madina.

Baca Juga :  Mahasiswa Desak BPK Audit Keuangan Pemkab Palas

Suasana pemandian yang cukup menyenangkan tersebut, kurang bersahabat. Warganya setempat masih saja melakukan “pemalakan” kepada pengunjung dengan berbagai dalih alasan seperti uang kebersihan, uang melintas rambin sehingga membuat suasana tempat wisata tersebut mengecewakan pengunjung.

“Kita sebenarnya tidak ingin complain apabila tepat ada dipungut tapi maunya cukup satu pintu saja. Silahkan mau bayar sepuluh ribu rupiah, dua puluh ribu rupiah yang penting keberadaan kita tidak macam dikompasi di tempat ini,” ujar sejumlah pengunjung saat melintas rambin dan masuk ke lokasi Aek Sijornih, Senin (20/7).

Air terjun dengan mengitari bebatuan tidak akan pernah keruh, karena kandungan kapur di dalam air. Lihat saja seusai mandi, tangan, badan terasa kasar dan bersisik akibat kandungan kapur yang ada di air lengket di badan. Tapi bagi pengunjung hal tersebut tidak masalah yang penting happy.

Volume airnya juga tergolong cukup besar, sehingga sungai ini dijadikan destinasi wisata, sekaligus pemandian bagi warga sekitar dan juga pendatang yang berkunjung ke Padangsidimpuan dan Tapsel serta Madina. Kontur tanahnya yang mendaki, karena terletak di areal bebukitan membuat air mengalir tercurah dari atas laksana air terjun sehingga menambah eksotisme Aek Sijornih. Keistimewaan air yang sangat jernih sesungguhnya menjadi daya tarik Aek Sijornih.

Jika mendaki ke atas, sekitar daerah pinggang bukit, akan melihat lintasan sungai dengan air yang mengalir tenang dan jernih sehingga dasar sungai dengan bebatuannya terlihat jelas. Airnya kemudian mengalir dengan deras menuju kaki bukit menimbulkan bunyi gemericik air yang cukup kuat. Karena kontur tanah yang cukup terjal inilah sehingga menyebabkan lintasan air laksana air terjun.

Baca Juga :  Pemkab Paluta Sosialisasi Bansos dan Hibah

Momentum liburan dan lebaran seperti kali ini uang parkir tidak lagi seperti hari-hari biasa yang hanya berkisar Rp 10.000 per mobil. Tapi saat ini biaya parkir dipatok mahal Rp 40.000 per kendaraan roda empat (mobil) sementara kendaraan roda dua mencapai Rp 15.000.

Hal ini cukup mengecewakan bagi pengunjung wisata Aek Sijornih. Kesan “memeras” permainaan uang parkir dilakukan warga sekitar. Lokasi parkir yang berjejer hanya di pinggir jalan lintas sumatera ini para petugas parkir yang tidak memiliki identitas dan seragam meminta uang parkir kepada pengendera setelah mau pulang. Biaya parkir yang cukup besar sering mendapat complain dari supir roda empat. Di mana angka Rp 40.000 tersebut mereka nilai sebagai pemaksaan dan tidak ada aturannya.


IKHWAN NASUTION – MEDAN BISNIS

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*