Wisata Manjala Tradisi Lebaran

P Sidimpuan. Menjala di lubuk larangan menjadi kegembiraan tersendiri bila dilakukan pada saat hari raya Idul Fitri. Target mencari ikan bukan tujuan utama bagi hobby panjala, tapi kesenangan tersendiri muncul sebagai wisata rohani setelah dua hari disibukkan dengan acara bermaaf maafan. “Baru sedikit dapat bang, tapi gak apa-apa yang penting hepi senang aja,” kata salah satu panjala di lokasi Sungai Batang Angkola, Desa Palopat Padangsidimpuan, Minggu (20/7). Dikatakan, bahwa manjala yang diikuti ratusan peserta ini sebagian besar hanya untuk rekreasi atau berwisata menghilangkan kejenuhan dalam suasana Idul Fitri.

Namun demikian bagi pecinta manjala atau mereka yang sudah profesional pastinya tidak mengecewakan. Biasanya para pemain panjala profesional ini selalu ikut bila ada lubuk larangan yang dibuka. Pantauan MedanBisnis, ratusan pecinta manjala ini terpantau sibuk ada yang melempar jala, mengambil ikan yang berhasil dijala, bahkan ada yang memperbaiki jalannya karena tersangkut di dasar sungai yang penuh dengan sampah dan akar-akar kayu.

“Inilah nilai kesenangannya, melempar jala, dan memunguti ikan yang dapat,” kata Aripin (36) salah satu panjala yang jauh datang dan ikut dari desanya di Huta Padang.

Demikian juga Bambang salah seorang pengunjung, mengakui, dia sengaja datang hanya khusus menonton manjala di lubuk larangan warga desa Pal IV ini.

“Senang aja melihat gaya mereka yang menjala, ada keunikan sendiri kadang mereka harus bergelumat dengan jala yang sangkut. Ada yang berusaha keras menjala tapi tidak berhasil tapi ada yang menggunakan jala kecil tak menyakinkan justru dapat ikan besar,” katanya.

Baca Juga :  Jalan Provinsi ArseMulai Diperbaiki

Menurutnya, ini adalah wisata rohani karena ada kegembiraan. Apalagi mereka banyak mendapat ikan. Adapun ikan yang biasanya berhasil ditangkap para panjala ini adalah ikan merah (ikan jurung), ikan lele, ikat cencen, ikat muzahir, ikan mas. Tapi tak jarang juga mereka mendapat ikan indosiar (ikan sapu-sapu) yang tidak dimakan orang di daerah ini. Ikan ini hanya dibuang atau dikumpul para peternak sebagai makanan ternak seperti peternak lele.

Sejumlah panitia Lubuk Larangan, mengatakan, bahwa harga tiket yang mereka jual hanya seharga Rp 100.000 per jala harga tersebut sesuai dengan kondisi ikan yang dikembangkan hingga 4-5 bulan lamanya.


IKHWAN NASUTION – MEDAN BISNIS

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 4 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*